HUSNI KAMIL MANIK, SANG “GUARDIAN of DEMOCRACY”

  • Dibaca: 8121 Pengunjung
HUSNI KAMIL MANIK, SANG “GUARDIAN of DEMOCRACY”

Sejak kecil saya merasa seolah terlahir sebagai seorang perencana yang cukup detail, hingga sedetail itupun saya merencanakan tahapan kehidupan yang akan saya lakoni. Sungguh tak pernah terbayangkan ketika di tahun 2013 saya ternyata diarahkan oleh Sang Penguasa Kehidupan untuk menapaki jalan memasuki “Republik” KPU, sebuah “negeri” yang selama ini lebih banyak saya amati hanya dari kejauhan, dari tempat saya berdiri tegak sebagai seorang akademisi. Istilah “Sang Penguasa Kehidupan” akan selalu saya pergunakan untuk menunjukkan keyakinan saya betapa Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa begitu berkuasa atas kehidupan kita sebagai manusia. Termasuk untuk menentukan, memilihkan waktu yang paling tepat bagi “Bos Husni atau Bos Imbon” (begitu saya sering menyebutnya ketika berada dalam diskusi nyantai dengan teman-teman sesama komisioner) untuk berpulang kembali keharibaanNya. Sang Penguasa Kehidupan itu ternyata menetapkan Hari-H nya adalah Kamis 7 Juli 2016, di hari kedua Idul Fitri, di hari yang berbalut kesucian, saat hampir semua orang disibukkan dengan urusan privat, saat semua orang di Indonesia menikmati quality time bersama keluarga, begitupun saya. Ketua KPU RI periode 2012-2017 itu berpulang saat masyarakat Indonesia cuti sejenak dari segala aktivitasnya, saat orang berpaling sejenak memfokuskan pandangan dari Tahapan Pilkada 2017 yang sedang digelar. Maka dalam pandangan saya, Sang Penguasa Kehidupan seolah ingin melengkapi pandangan berbagai kalangan akan kebersahajaan sosok tinggi besar itu. Ketua kami itu datang sendiri ke rumah sakit, tanpa embel-embel sebagai Ketua KPU RI, yang sejatinya adalah pemimpin nomor satu dari sebuah lembaga terhormat, kuadran Demokrasi, dan sedang dalam proses untuk diakui sebagai salah satu cabang kekuasaan di Indonesia. Ketua kami itu berpulang dalam keheningan, kesunyian, dan tentu saja dengan kesederhanaannya. Seolah tak ingin merepotkan kami semua jajaran KPU seluruh Indonesia yang berjumlah jutaan personel, tak ingin mengganggu liburan kami semua. Mencermati kesederhanaan, dan ketenangannya, sayapun terbayang jika saat menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya, beliau tetap menunjukkan ketenangan dan wajah damainya.

Unduh Artike Selengkapnya disini

  • Dibaca: 8121 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya